DILEMA PERUBAHAN DARI SISI KURIKULUM K-13

KURIKULUM 2013 / K-13

LATAR BELAKANG KURIKULUM K-13

Dalam hal ini penulis perlu menekankan bahwa tulisan ini bersifat opini. Jadilah pembaca yang bijak.

Merujuk dari Paparan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Pendidikan pada KONSEP DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 (Jakarta, 14 Januari 2014)
bahwa perubahan kurikulum satuan pendidikan di perlukan dikarenakan peranan pemerintah dari segi pendidikan dan kebudayaan dalam menjawab perubahan zaman. 

Untuk lebih santai, mengapa diperlukan kurikulum baru, berikut grafik hasil kemampuan Matematika untuk umur 8 tahun. Keterangannya ada di gambar.
Data Statistik Kemampuan Kognitif Matematika tahun 2007/2011
Sumber : Paparan WamenDikBud RI Bidang Pendidikan tahun 2014

Berikut Tantangan yang mengharuskan perubahan pada kurikulum satuan pendidikan di Indonesia :
  1. Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA
  2. Masalah lingkungan hidup
  3. Kemajuan teknologi informasi
  4. Konvergensi ilmu dan teknologi
  5. Ekonomi berbasis pengetahuan
  6. Kebangkitan industri kreatif dan budaya
  7. Pergeseran kekuatan ekonomi dunia
  8. Pengaruh dan imbas tekno-sains
  9. Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan
  10. Materi TIMSS dan PISA
Dengan banyaknya daftar tantangan yang mengharuskan perubahan kurikulum, diharapkan juga bahwa dengan perubahan kurikulum maka akan mencapai kemampuan yang mumpuni sesuai dengan zaman. Kemampuan yang dimaksud adalah sebagai berikut;

  1. Kemampuan berkomunikasi
  2. Kemampuan berpikir jernih dan kritis
  3. Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan
  4. Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab
  5. Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda
  6. Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
  7. Memiliki minat luas dalam kehidupan
  8. Memiliki kesiapan untuk bekerja
  9. Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya
  10. Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan

Ternyata harapan pemerintah terhadap generasi milineal Indonesia sangat bagus dan positif. Dengan 10 tantangan, diimbangi dengan 10 kemampuan untuk menyongsong perubahan zaman.

KEMUDAHAN PENGGUNAAN KURIKULUM K-13

Kurikulum K-13 memberikan arah yang terbaru bagi guru baik dalam penyusunan RPP ataupun saat proses belajar di kelas. Setiap aktivitas akan terpantau dan tidak bertele-tele. Mulai dari pembukaan pelajaran sampai ke penutupan sudah terstruktur. Hal ini tentu akan mempersingkat waktu guru. Tentunya, siswa lebih terarah. Proses dan pencapaiannya akan terdeteksi oleh guru. 
Langkah Penguatan Proses dalam bagan Penilaian
Sumber : Paparan WamenDikBud RI Bidang Pendidikan tahun 2014
Siswa akan mendapat asupan dalam proses memperbaiki pencapaiannya. Hal tersebut diharapkan kerja sama dari guru terkait.

Memang akan terkendala bagi guru yang baru menerapkan pola K-13 seperti penyusunan RPP yang jadinya setiap hari. Hal ini dapat diubah dengan latihan menyusun RPP setiap hari dan membaca sebanya-banyaknya sumber literasi yang terkait.


Penerapan kurikulum K-13 terdapat perbedaan saat di dalam kelas ketika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Yang mana dalam K-13, keaktifan seorang guru sudah dibatasi. Bahkan guru didorong untuk mencari metode yang menarik bagaimana membuat siswa lebih aktif lagi. Tentunya dengan hal-hal yang menarik juga.
Sumber : Tangkapan layar
Hal ini dikarenakan memerlukan proses transisi dari kurikulum sebelumnya. Yang biasanya guru yang menjadi pusat perhatian, dengan K-13, siswa menjadi pusat pembelajaran. Keaktifan siswa dalam mengolah materi pembelajaran menjadi PR bagi setiap guru. Hal ini akan menambah koneksi guru untuk berjejaring dengan guru-guru lain tentang metode pembelajaran aktif.

Kendala bagi tenaga pengajar : 

  • menyusun RPP mengorbankan banyak waktu dan tenaga. Permintaan RPP semakin beragam
  • metode pembelajaran yang menarik masih sedikit yang menerapkan. Jadinya kekurangan ide.
  • banyak guru-guru yang belum dapat menyesuaikan dengan zaman, hal kecilnya penggunaan gawai seperti laptop, smartphone dan lainnya
  • bahan ajar sulit di dapat. Terkadang ide ada akan tetapi bahan/ materi terbatas. Sehingga menghambat penyampaian.
  • memerlukan waktu lebih lama untuk transisi penggunaan buku yang berbeda : buku guru dan buku siswa.
  • kurang keahlian mereposisi materi buku K-13. Materi di dalam buku terkadang kurang relevan pada kondisi sosial siswa. Contohnya, buku geografi yang berisikan tentang laut, akan sulit diterapkan bagi siswa yang tinggal di pegunungan, contohnya; SD Inpres Pepera. 
Setiap perubahan memang menghadirkan penerimaan dan penolakan. Tetapi ingatlah bahwa semua itu harus berubah.
Tulisan ini bersifat opini dan merupakan pengalaman penulis. Sekian dan terima kasih 😊

Komentar

Postingan Populer