ADVENTURE to Pepera "Step 1"
"Oooo, aku akan hidup di sini selama setahun. Ganbatte!!" sekedar penyemangat bagi diri sendiri yang mengemban tugas di satu objek.
Kaki ku harus kujaga, harus ku perhatikan seperti tidak pernah sebelumnya kulakukan.
Apa boleh buat. Kalau sehari perjalanan, lalu istrahat sehari, gimana jadinya mau mengemban tugas yang lebih besar lagi. OK. Aku bisa
Kaki mulu sih yang dibicarakan ?
Karena hanya dengan dan memang hanya karena kemampuan otot kaki-lah, maka mampu untuk hidup di sana. Misalkan nih si A ngomong 'Aku tuh orangnya ga bisa jalan jauh. Mudah capek'
atau si B mengatakan bahwa dia hobinya bermain game di gawai.
Kalau sudah di Pepera, maka itu (alasan si A dan si B) akan berubah menjadi hobi berjalan.
Tanpa polusi asap kendaraan bermotor, sapi tidak ada, kuda tidak ada, yang sanggup untuk di jadikan alat transportasi mungkin bagi pemalas hanya babi hutan yang dipelihara, bisa jinak bisa mengganas kapan pun maunya.
Seru banget kok. Asyik. Ingin berkunjung ke rumah warga, ya berjalan. Ingin bermain dengan anak-anak, ya, gerakan aktif.
Pertanyaan basi dari anak-anak sewaktu aku di sana mengatakan " Pak Guru, ayo kita main bola? Bola su lengkap, dong pemain kurang. Pak Guru, nanti kita jalan sama ee"
Apabila Anda mendengar itu, janganlah sekali-kali langsung percaya. Karena prosesnya dari mengatakan "... nanti kita jalan sama" menandakan bahwa si Anak masih urusan. Urusannya itu bisa memakan waktu minimal 1 jam. Sebab, mobilitas hanya menggunakan yang namanya KAKI.
Merayakan indahnya kerinduan untuk berkumpul memuliakan Tuhan Yesus, masyarakat dari beberapa kampung akan menempuh perjalanan yang lumayan menguras tenaga. Ada yang 1 menit juga sudah sampai, karena rumahnya dekat dengan Gereja, ada yang 1 jam, ada 2 jam, ada pula yang sampai 3 jam. Akan tetapi, senyum ceria mereka tetap melekat di raut wajahnya, sebagai upah kita terhadap perjalanan panjang, atau akan menjadi self reminder bagi kita, bagaimana kita memberi apresiasi terhadap Pak Pos yang datang mengantarkan amplop mungil berisi selembar surat penantian kita. Demikianlah kiranya gambaranku terhadap masyarakat di sana.
Rindu akan menjadi bulan-bulanan di kala keheningan mulai merebak.
Ingin bertemu, SULIT (ongkos, waktu perjalanan, biaya hidup yang 11:12 dengan tinggal di Texas), rindu ingin menyahut mereka (logat khas yang mengalun kasar akan tetapi menjadi ciri khas dialek Ngalum Pepera dengan suku Ngalum dari daerah lain) rindu ingin memakan boneng (bhs. Indonesia : ubi jalar) bakar atau rebus atau kukus (versi mengolah ubi jalar terbaru yang kuajarkan pada masyarakat). Banyak rindunya.
Uda datang dan kunjungi deh!
Banyak yang akan kamu lakuin di sana. Fotografi, my trip my adventure juga boleh banget, atau ingin menenangkan otak yang udah penat banget dengan asap kendaraan bermotor?
Uda ke sini aja. Desa Pepera, Distrik Pepera, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua, Negara Republik INDONESIA.
Kaki ku harus kujaga, harus ku perhatikan seperti tidak pernah sebelumnya kulakukan.
Apa boleh buat. Kalau sehari perjalanan, lalu istrahat sehari, gimana jadinya mau mengemban tugas yang lebih besar lagi. OK. Aku bisa
Kaki mulu sih yang dibicarakan ?
Karena hanya dengan dan memang hanya karena kemampuan otot kaki-lah, maka mampu untuk hidup di sana. Misalkan nih si A ngomong 'Aku tuh orangnya ga bisa jalan jauh. Mudah capek'
atau si B mengatakan bahwa dia hobinya bermain game di gawai.
Kalau sudah di Pepera, maka itu (alasan si A dan si B) akan berubah menjadi hobi berjalan.
Tanpa polusi asap kendaraan bermotor, sapi tidak ada, kuda tidak ada, yang sanggup untuk di jadikan alat transportasi mungkin bagi pemalas hanya babi hutan yang dipelihara, bisa jinak bisa mengganas kapan pun maunya.
Seru banget kok. Asyik. Ingin berkunjung ke rumah warga, ya berjalan. Ingin bermain dengan anak-anak, ya, gerakan aktif.
Pertanyaan basi dari anak-anak sewaktu aku di sana mengatakan " Pak Guru, ayo kita main bola? Bola su lengkap, dong pemain kurang. Pak Guru, nanti kita jalan sama ee"
Apabila Anda mendengar itu, janganlah sekali-kali langsung percaya. Karena prosesnya dari mengatakan "... nanti kita jalan sama" menandakan bahwa si Anak masih urusan. Urusannya itu bisa memakan waktu minimal 1 jam. Sebab, mobilitas hanya menggunakan yang namanya KAKI.
Merayakan indahnya kerinduan untuk berkumpul memuliakan Tuhan Yesus, masyarakat dari beberapa kampung akan menempuh perjalanan yang lumayan menguras tenaga. Ada yang 1 menit juga sudah sampai, karena rumahnya dekat dengan Gereja, ada yang 1 jam, ada 2 jam, ada pula yang sampai 3 jam. Akan tetapi, senyum ceria mereka tetap melekat di raut wajahnya, sebagai upah kita terhadap perjalanan panjang, atau akan menjadi self reminder bagi kita, bagaimana kita memberi apresiasi terhadap Pak Pos yang datang mengantarkan amplop mungil berisi selembar surat penantian kita. Demikianlah kiranya gambaranku terhadap masyarakat di sana.
Rindu akan menjadi bulan-bulanan di kala keheningan mulai merebak.
Ingin bertemu, SULIT (ongkos, waktu perjalanan, biaya hidup yang 11:12 dengan tinggal di Texas), rindu ingin menyahut mereka (logat khas yang mengalun kasar akan tetapi menjadi ciri khas dialek Ngalum Pepera dengan suku Ngalum dari daerah lain) rindu ingin memakan boneng (bhs. Indonesia : ubi jalar) bakar atau rebus atau kukus (versi mengolah ubi jalar terbaru yang kuajarkan pada masyarakat). Banyak rindunya.
Uda datang dan kunjungi deh!
Banyak yang akan kamu lakuin di sana. Fotografi, my trip my adventure juga boleh banget, atau ingin menenangkan otak yang udah penat banget dengan asap kendaraan bermotor?
Uda ke sini aja. Desa Pepera, Distrik Pepera, Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua, Negara Republik INDONESIA.


Komentar
Posting Komentar